Kasus Pemerkosaan di Lahat, Kajari Kantongi Bukti Baru Siap Ajukan Banding

user
Romi Maradona 12 Januari 2023, 14:36 WIB
untitled

Beritamusi.co.id - Kejaksaan Negeri Lahat akan mengajukan memori banding atas putusan yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Lahat, dalam kasus kekerasan seksual yang dilakukan Oo (17) warga Kecamatan Mulak Ulu, dan MAP (17) warga Kecamatan Mulak Sebingkai Kabupaten Lahat, terhadap AP (17). Selain kedua pelaku, ada satu pelaku lain yakni Gilang (18). Namun, untuk pelaku Gilang sendiri belum dihadirkan dalam persidangan lantaran sudah dewasa.

"Ya saat ini kita sedang mempersiapkan memori banding. Kita menemukan bukti baru, "tegas Plt Kajari Lahat, Tatang Darmi, Kamis (12/1/2023).

Untuk diketahui, Tatang Darmi, sendiri baru saja ditunjuk menjadi Plt Kajari Lahat, menggantikan Nilawati, SH, MH yang saat ini dinonaktifkan.

Sementara, jabatan Kasi Pidum yang sebelumnya dijabat Frans Mona, SH MH dijabat Plh Faisyal Basni, yang juga menjabat sebagai Kasi Intel Kejaksaan Negeri Lahat.

Namun demikian, pihak kejaksaan sendiri belum mengungkapkan bukti baru yang akan diajukan dalam memori banding.

Terkait persiapan sidang terdakwa dewasa atas nama Gilang, Darmi sendiri mengatakan sudah dipersiapkan dakwaannya. "Untuk JPUnya yang jelas dari Kejari Lahat yang akan ditunjuk," tambahnya, didampingi Kasi Intel dan Plh Kasi Pidum Faisyal Basni SH, Kasi Datun Oktriadi Kurniawan SH, dan Kasi Pidsus Raden Timur SH.

Kasus ini sendiri sudah bergulir di Pengadilan Negeri Lahat, dua pelaku pelaku Oo (17) warga Kecamatan Mulak Ulu, dan MAP (17) warga Kecamatan Mulak Sebingkai Kabupaten Lahat, yang melakukan kekerasan seksual terhadap AP (17) divonis 10 bulan kurungan. Vonis tersebut lebih tinggi dari tuntutan jaksa yang menuntut tujuh bulan penjara.

Vonis dan tuntutan tersebut kemudian mendapatkan sorotan dari masyarakat luas termasuk netizen. Terakhir, kasus tersebut viral lantaran orang tua korban mengadu ke Hotman Varis. Hotman Varis pun melalui video mengomentari vonis dan tuntutan kejaksaan yang dinilainya tidak adil. Bahkan, ada puluhan massa, Senin (9/1/2023) menggelar aksi demo terkait kasus tersebut.

Sebelumnya, saat dibincangi media ini Kasi Pidum Kejari Lahat Frans Mona, SH MH menerangkan alasan kenapa M Abby Habibullah SH selaku JPU dalam kasus tersebut menuntut tujuh bulan kurungan kepada kedua pelaku.

Diterangkan Fran, tuntutan mempertimbangkan bahwa kedua pelaku merupakan anak anak. Tak hanya itu, keduanya juga masih tercatat sebagai pelajar aktif. "Kondisi tersebut menjadi pertimbangan bagi JPU, "sampainya.

Selain itu, berdasarkan fakta persidangan terungkap fakta baru yaitu beberapa potongan video, foto dan pesan singkat antara korban dan pelaku.

Ditegaskanya, berdasarkan pasal 2 UUSPPA perampasan kemerdekaaan dan pemidanaan sebagai upaya terakhir dan penghindaran pembalasan serta pelindungan.

Kemudian, berdasar pasal 3 UUSPPA anak dalam proses peradilan berhak tidak ditangkap, di tahan, atau di penjara kecuali sebagai upaya terakhir dan dalam waktu yg paling singkat, dan anak juga berhak memperoleh keadilan di muka pengadilan anak yg objektif dan tidak memihak. Pasal 79 ayat 3 UUSPPA minumum khusus pidana penjara tidak berlaku terhadap anak.

"Jadi dalam fakta persidangan itu terdapat bukti baru. Video dan foto yang itu hanya terungkap dalam persidangan yang kemudian menjadi pertimbangan juga bagi JPU,"ungkapnya.

Sementara, penasehat hukum OO dan AP, M Ferdi Setiawan SH dan Imam Rustandi, SH mengatakan jika vonis hakim 10 bulan terhadap kedua klienya sangat memberatkan.

Menurutnya kedua PH, seharusnya tidak dihukum melainkan di kembalikan orang tua.

Diungkapkan Ferdi, dari dakwaan JPU yang disangkakan kepada klienya unsur unsur yang disangkakan tidak mendasar.

Dimaksudkan Ferdi, tidak benar adanya kekerasan, pemerkosaan dan pemaksaan itu tidak benar.

"Untuk diketahui tidak ada pemerkosaan, pemaksaan atau kekerasan. Pasal yang diterapkan sangat berat bagi kami selaku pendamping anak anak yang bermasalah hukum," tegasnya.

Dilanjutkanya, dari tahapan sidang sangat jelas dalam fakta persidangan ada bukti foto, video dan percakapan melalui pesan watshapp yang sama sekali tidak ada pemaksaan dan pemerkosaan.

Selain itu, bukti yang ditampilkan JPU ada yang tidak berkecocokan seperti hp anak disita tapi waktu ditanya saat sidang hp itu tidak ada. Untuk saksi L, saksi T, saksi B tidak dihadirkan. Kemudian barang bukti baju dan celana tidak ada kecocokan.

" Kami beranggapan perkara ini terkesan dipaksakan dan kami mohon kepada masyarakat dan nitizen jangan hanya fokus pada korban. Pelaku juga masih anak anak dan dibawah umur. Mereka juga putus sekolah, terkena tekanan batin, psikologis terganggu, "sampainya.

Ditambahkanya, informasi terakhir yang pihaknya terima Jaksa melakukan banding dan pihaknya selaku PH akan melakukan kontra memori banding terhadap jaksa.

"Dalam intinya kami akan perjuangkan nasib klien kami demi azas keadilan agar dibebaskan atau dikembalikan dengan orang tuanya,"ujarnya.

Sebelumnya orang tua dan AP (17) korban kekerasan seksual mengadu ke pengacara Hotman Paris, di Jakarta. Bahkan, video Hotman Varis yang mengomentari vonis Hakim Negeri Lahat dan tuntutan JPU viral di Kabupaten Lahat. Dalam video yang beredar, tampak ibu dan korban AP sedang bersama Hotman Varis.

Dalam video, Hotman Varis sendiri mempertanyakan terkait tuntutan Jaksa yang hanya tujuh bulan dan vonis hakim yang hanya 10 bulan.

"Bapak Kejari Lahat ini kasus yang lagi viral. Anak gadis umur 16 tahun di Lahat diperkosa tiga laki disuatu kos. Diundang undang peradilan anak pemerkosaan anak bisa dihukum 15 tahun dan kalau pelakunya dibawah umur bisa dikurangi setengah atau sepertiga tapi ini hanya dituntit tujuh bulan. Ada apa? Bayangkan kalau ini terjadi dengan kita, "ucap Hotman dalam video yang kini viral.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lahat, Muhamad Chozin Abu Sait SH ini, lebih tinggi tiga bulan dari tuntujan JPU Kejari Lahat, yang menuntut tujuh bulan kurungan dengan vonis 10 bulan.Vonis majelis hakim tersebut, membuat keluarga korban yang mengikuti sidang putusan di Pengadilan Negeri Lahat, jadi geram. Keluarga korban sampai berteriak mengatakan putusan tersebut tidak adil. Karena ulah dari dua pelaku anak tersebut, sudah membuat fsikologis korban terganggu.

"Soal putusan, itu mutlak kewenangan Majelis Hakim. Dilihat berdasarkan fakta persidangan, alat bukti dan keterangan saksi. Semua sudah dipertimbangankan, baik dari sisi korban maupun pelaku anak," terang Humas Pengadilan Negeri Lahat, Diaz Nurima Sawitri SH MH.

Menurut Diaz, sidang perkara anak ini berlangsung cepat, dilakukan setiap hari secara marathon selama sepuluh hari. Untuk alat bukti, tetap merujuk ke KUHP. Mulai dari saksi ahli, keterangan saksi anak, dan petunjuk (kesesuaian antara saksi dan bukti lain harus singkron). "Kedua pelaku anak divonis sepuluh bulan. Sebenarnya, perampasan hak anak (hukuman penjara) ini, adalah upaya terakhir," jelasnya.

Sebelumnyya, Wanto, ayah korban merasa keberatan dengan putusan hakim tersebut. Menurutnya, putusan 10 bulan itu terlalu kecil. Meskipun ada perlakukan khusus, jika harus dipotong setengah tuntutan hukuman orang dewasa, setidaknya divonis 4,5 tahun. "Kami sangat kecewa dengan putusan ini. Ini tidak adil. Anak kami jadi korban dan akan alami trauma mendalam karena kejadian ini," ucapnya.

Wanto sendiri mengungkapkan akan terus mencari keadialan untuk anaknya tersebut. Diapun akan berangkat ke Jakarta untuk meminta bantuan kepada Hotman Varis, pengacara terkenal di Tanah Air. "Saya akan terus mencari keadilan untuk anak saya,"tegasnya. (Sfr)

Kredit

Bagikan