Nonton dan Diskusi “Asa Gajah Sumatra di Air Sugihan”

user
Romi Maradona 27 September 2022, 12:18 WIB
untitled

Beritamusi.co.id - Gajah Sumatra [Elephas maximus sumatrensis], salah satu spesies atau sub spesies gajah yang masih bertahan di Pulau Sumatra. Dari masa purba [megalitikum] hingga hari ini, gajah memiliki hubungan istimewa dengan manusia di Pulau Sumatra. Selama ratusan tahun, masyarakat yang hidup berdekatan atau sekitar habitat atau koridor gajah, hidup harmonis dengan gajah. Namun dalam 25 tahun terakhir, muncul konflik antara manusia dengan gajah sumatra. Korbannya bukan hanya gajah, juga manusia.

Salah satu wilayah konflik tersebut di kantong gajah Sugihan-Simpang Heran, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir [OKI], Sumatera Selatan. Apakah gajah sumatra di Sugihan-Simpang Heran yang berjumlah sedikitnya 48 individu terancam hidupnya?

Belantara Foundation berkolaborasi dengan Forest Wildlife Society dan Rumah Sriksetra, yang didukung KNCF [Keidanren Nature Conservation Fund] dan APP Sinar Mas, mencoba memberikan asa bagi masa depan gajah sumatra di Sugihan-Simpang Heran, melalui kegiatan pelatihan mitigasi konflik manusia dan gajah, edukasi dan penyadartahuan anak tentang gajah dan ekosistemnya, serta penanaman pakan gajah dan penggaraman tanah untuk kebutuhan mineral gajah.

Upaya pelatihan mitigasi konflik, serta edukasi dan penyadartahuan anak tentang gajah sumatra dan ekosistemnya, ternyata memberikan harapan atau asa bagi masa depan gajah sumatra di Sugihan-Simpang Heran. Asa tersebut tergambar dalam film dokumenter “Asa Gajah Sumatra di Air Sugihan”.

“Sejumlah tokoh masyarakat, guru, dan anak-anak dari sejumlah desa di Air Sugihan, yang berbatasan langsung dengan kantong Sugihan-Simpang Heran, ternyata memahami gajah sumatra. Mereka sadar bahwa gajah sumatra harus dilindungi. Mereka rela berbagi ruang hidup dengan gajah sumatra,” kata Dolly Priatna, Direktur Eksekutif Belantara Foundation.

Harapan ini tentunya merupakan kabar baik, dan penting untuk dijaga, sehingga gajah sumatra di Sugihan-Simpang Heran terus hidup harmonis dengan manusia yang berada di sekitarnya. “Maka upaya selanjutnya adalah memperluas kesadaran tersebut pada masyarakat di Air Sugihan, serta melibatkan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi di Sumatera Selatan, sebagai laboratorium ilmu pengetahuan dan edukasi,” kata Dolly, yang juga Dosen Prodi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan
Minggu [25 September 2022], bertempat di gedung Fisip UIN Raden Fatah Palembang.

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 14.00-17.00 WIB, diikuti puluhan dosen dan mahasiswa di UIN Raden Fatah Palembang.

Selain pemutaran film, juga digelar diskusi dengan narasumber Dr. Dolly Priatna [Belantara Foundation], Syamsuardi [Forest Wildlife Society], Taufik Wijaya [Rumah Sriksetra], dan Dr. Yenrizal [Fisip UIN Raden Fatah Palembang].

“Kami sangat mendukung berbagai kegiatan terkait persoalan lingkungan hidup, termasuk gajah sumatra yang saat ini hidupnya terus terancam. Selain minat saya pada komunikasi lingkungan, juga Fisip UIN Raden Fatah Palembang berkomitmen terhadap berbagai upaya atau tindakan menyelamatkan lingkungan. Menyelamatkan Bumi,” kata Dr. Yenrizal, Wakil Dekan I Fisip UIN Raden Fatah Palembang.

“Perguruan tinggi memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya menyelamatkan gajah sumatra. Pemutaran dan diskusi film dokumenter tentang keberadaan gajah sumatra di Air Sugihan, di Fisip UIN Raden Fatah Palembang merupakan wujud dukungan yang luar biasa. Sebuah angin segar bagi masa depan gajah sumatra. Kami percaya para peneliti, dosen, mahasiswa dari Fisip UIN Raden Fatah Palembang dapat memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan, tenaga dan waktunya dalam upaya menyelamatkan gajah sumatra yang terus terdesak hidupnya,” kata Syamsuardi dari Forest Wildlife Society.

Film Asa Gajah Sumatra di Air Sugihan mengisahkan hubungan manusia dengan gajah sumatra di Lanskap Padang Sugihan

Kantong Sugihan-Simpang Heran

Kantong Sugihan-Simpang Heran berada di wilayah rawa gambut di Kecamatan Air Sugihan. Kantong ini berada di kawasan konsesi PT. KEN [Kerawang Ekawana Nugraha], PT. SBA [Sebangun Bumi Andalas], PT. BAP [Bumi Andalas Permai], hingga PT. BMH [Bumi Mekar Hijau], dan berbatasan dengan pemukiman masyarakat transmigran yang hadir sejak awal tahun 1980-an.

Tercatat sedikitnya 48 individu gajah liar hidup di kantong Sugihan-Simpang Heran, yang terbagi bagi dalam empat kelompok [keluarga].

Kantong gajah Sugihan-Simpang Heran bagian dari Lanskap Padang Sugihan, yang terdiri empat kantong gajah liar yakni kantong Cengal, Penyambungan, Sebokor, dan Sugihan-Simpang Heran. Luasnya mencapai 232.338,71 hektar. Sekitar 127 individu gajah liar yang hidup di lanskap Padang Sugihan.

Kantong gajah Sugihan-Simpang Heran sangat penting bagi masa depan gajah sumatra. Sebab sejak proyek transmigran dilakukan pemerintah di Air Sugihan pada 1982, sering kali terjadi konflik manusia dengan gajah.

Kredit

Bagikan