Memburu Pesona Lain di Pulau Buru

user
Romi Maradona 18 September 2022, 12:54 WIB
untitled

Oleh : Dr.Yenrizal, M.Si (Dosen Fisip UIN Raden Fatah Palembang)

Beritamusi.co.id - Malam itu, 13/09/2016, penerbangan ke Ambon berjalan lancar. Pukul 23.45 WIB take off dari Cengkareng, 06.30 WIT pesawat domestik tersebut hinggap di bumi Manise, Maluku. Perbedaan waktu 2 jam cukup melelahkan. Wajah-wajah khas Indonesia Timur sudah menyambut di depan mata. Kendati sosok mereka terlihat keras, kulit gelap, rambut ikal ataupun keriting, tapi keramahan itu sangat jelas. Senyum dan cara menyapanya, jauh dari stigma tentang orang Timur selama ini.

Sekitar 10 menit perjalanan dari Bandara Pattimura, kampus Universitas Pattimura (Unpatti) terlewati, selanjutnya Jembatan Merah Putih, ikon baru Ambon tampak megah menyambut. Hari itu harus menginap dulu untuk sementara, kapal feri menuju Pulau Buru, baru akan berangkat malam sekitar jam 20.00 WIT. Tidur dan istirahat satu hari sangat diperlukan. Disini sudah terasa satu masalah, akses dan kemudahan transportasi.

Jam 20.00 WIT, kapal feri dari Pelabuhan Galala siap berangkat. Inilah transportasi utama menuju berbagai pulau lain di wilayah yang memang dominan perairan ini. Ratusan penumpang, truk dan minibus pribadi, barang kelontongan, sembako, sepeda motor, tumplek dalam satu kapal berukuran sedang ini. “Terkadang ada juga yang bawa hewan ternak,” ujar Jufri Pattilouw, teman yang asli dari Maluku.

Wajah penumpang terlihat biasa saja, ada yang bercanda, ngobrol, ibu-ibu yang menggendong anak, para pria yang menenteng bawaan. Semua tampak seperti biasa saja. Hanya logat khas Indonesia Timur selalu menarik untuk didengarkan. Kapal Feri ini dilengkapi ratusan tempat tidur susun bertingkat, lengkap dengan kasur yang terasa cukup empuk. Masing-masing kasur sudah diberi nomor urut. Penumpang tinggal cari nomor yang sesuai dengan tiketnya. Menarik, meski penumpang terlihat sudah melebihi kapasitas, tapi tak ada yang main serobot tempat tidur. Tertib, itu kesan pertama. Kelebihan muatan memang menyebabkan kemudian banyak penumpang yang menggelar tikar dan kardus di sepanjang lorong atau lantai kapal. Uniknya, semua tampak biasa saja.

Pelabuhan Namlea Pulau Buru beritamusi.co.id/Yenrizal


Suasana kapal memang tak bisa dikatakan sangat nyaman, tetapi setidaknya cukup damai dan tenang. Kelebihan penumpang tidaklah membuat kapal jadi riuh atau gaduh. Semua ada ditempatnya masing-masing. WC kapal terlihat cukup bersih, tidak berbau pesing dan selalu tertutup. Ini hal yang agak sulit ditemui ketika pernah melakukan penyeberangan dari Merak-Bakauheni yang menghubungkan Sumatera Jawa.

Hal yang biasanya agak mencemaskan pada tempat seperti ini adalah copet, sesuatu yang lazim ditempat ramai yang heterogen. Tapi tidak di kapal feri yang berisikan mayoritas etnis Maluku. Hampir semua tertidur dengan lelap, di atas kasur ataupun yang menggelar tikar di lantai. Dengkuran halus maupun keras yang sambung menyambung. Semua tampak tenang dan nyaman. Tak ada kekhawatiran bakal ada copet atau maling. Wajah mereka terlihat begitu yakin dan tenang dalam tidurnya.

Satu lagi, stereotype tentang orang Timur yang langsung terbantahkan. “Jarang sekali ada kecopetan disini, tapi harus tetap waspada,” ujar Dr Jupri, dosen FE Unpatti yang menemani.
Perjalanan dengan feri ditempuh sekitar 9 jam. Sekitar jam 5.15 WIT, tanah Buru bumi Bupolo sudah terjejaki. Saya membayangkan, inilah daerah yang selama ini banyak menyimpan kisah menyeramkan. Instalasi Rehabilitasi Tahanan Politik (Inrehab Tapol), atau lazim juga disebut tempat pembuangan para terduga eks komunis di akhir 1960-an, ada di tempat ini. Saya sedang berada di lokasi tersebut itu. Daerah yang katanya dulu, ribuan manusia didatangkan dari berbagai daerah (terutama Jawa), tanpa pengadilan, tanpa kejelasan, dimasukkan ke daerah ini. Saat segalanya masih berupa hutan, tak ada sarana penerangan, disitulah ketidakadilan itu terjadi. Tapi itu dulu, puluhan tahun yang lalu. Sejarah memang kemudian tak pernah terungkap dengan jelas, tetapi cerita-cerita seram itu sudah terlalu banyak berseliweran. Wajah Buru lebih dominan diketahui publik dari kisah kelamnya.

HALAMAN

Credits

Bagikan