Media Perlu Jaringan Advokat untuk Hadapi Kasus Pers

user
rian 13 Agustus 2022, 14:52 WIB
untitled

PALEMBANG - Bukan rahasia lagi bila dalam kerja-kerja jurnalistik, kasus penganiayaan, pengancaman bahkan pembunuhan yang menimpa wartawan. Bahkan masih banyak kasus yang belum tuntas diungkap, meskipun sebagian sudah masuh di meja pengadilan.

Berdasar dari hal di atas, Taslim, SH, MH, praktisi hukum Palembang menjelaskan pentingnya membangun jaringan antara lembaga pers dan advokat, baik secara pribadi maupun lembaga.

Menurut mantan Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Palembang ini, dalam menjalankan profesinya tidak jarang ada wartawan yang tersandung kasus tertentu, yang berkaitan dengan tugas jurnalistiknya.

Pada kondisi itu, menurut Taslim, wartawan baik secara pribadi atau kelembagaan perlu membuat simpul jaringan untuk membantu penyelesaian kasus tersebut menjadi lebih ringan.

Meskipun Taslim mengakui, posisi media dan wartawan bisa menyelesaikan sendiri meskipun tanpa pendamping advokat atau lembaga bantuan hukum. Tetapi menurut Taslim, membangun simpul jaringan dengan advokat, akan lebih memudahkan dalam menyelesaikan masalah, ketika wartawan berhadapan dengan kasus tertentu.

“Bisa juga wartawan atau medianya menyelesaikannya sendiri, tetapi menurut saya membuat membuat jaringan dengan advokat, baik pribadi atau lembaga, merupakan hal yang baik dilakukan. Sebab dengan begitu kasus yang dihadapi bisa diselesaikan bersama. Sebab, terus terang saja, advokat perlu jaringan waratawan, dan sebaliknya wartawan juga perlu jaringan advokat,” ujarnya saat memberi materi hukum, Selasa (10/8/2022) lalu.

Tidak Semua Pihak Senang

Menurut Taslim hal itu menjadi penting. Sebab dalam menjalankan profesinya, apalagi menjalankan fungsi pers sebagai kontrol sosial, tentu tidak akan semua pihak senang pada kritik sosial yang dimuat di media, meskipun niatnya baik.

Dikatakan Taslim, pada kasus-kasus tertentu ada saja celah orang atau pihak lain yang sangat mungkin tidak senang, kemudian mempersoalkan informasi yang terbit, untuk kemudian menggugat secara hukum. Alasannya tidak suka atau tidak terima dikritik melalui media.

Oleh sebab itu, menurut Taslim perlu dibangun jaringan lembaga hukum, untuk membantu wartawan atau media yang sedang dalam masalah hukum.

“Mohon maaf, ya. Jadi menullis berita juga harus ada pertimbangan, apalagi menjalankan fungsi pers sebagai kontrol sosial. Tidak semua orang suka dengan kritik. Orang bisa saja kemudian mempersoalkan dan menggugat secara hukum. Jadi ya, begitu. Diperlukan jaringan advokat atau lembaga hukum yang diharapkan bisa membantu meringakan kasus hukum yang sedang dihadapi,” tambahnya.

Wartawan Jangan Berpikir Duit

Pada sesi berikutnya Efran, Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) Sumsel berbagi pegalaman dalam menjalani profesinya sebagai wartawan.

Menurut Efran, dalam kerja jurnalistik, baik sedang berburu, mengumpulkan, menggali dan menulis berita, wartawan jangan pernah berpikir duit. Efran mengaskan, tugas wartawan bukan memburu duit dari narasumber, tetapi menggali informsi untuk kepentingan publik.

“Wartawan jangan pernah berpikir duit saat mencari berita atau saat menemui narasumber. Sebab kita bukan mencari duit, atau meminta duit dengan narasumber, tetapi menggali informasi untuk kepentingan publik,” tegas Efran.

Lebih lanjut, Efran mengatakan bila ada wartawan yang menjalani profesinya diiringi dengan niat mencari duit, apalagi memeras pada narasumber, menurut Efran hal itu sudah menyalahi niat baik wartawan, sekaligus menodai profesi wartawan.

Jangan ada niat buruk

“Profesi wartawan ini menurut saya profesi mulia, tapi jangan diirngi dengan niat buruk, misalnya meminta-minta duit dengan narasumber, apalagi memeras dengan ancaman. Sebab tujuan kita sebagai wartawan hanya untuk mengungkap kebenaran yang sesuai fakta, lain tidak. Makanya jangan ada niat buruk kepada siapapun, apalagi berpikir dapat duit dari narasumber,” tegasnya.

Pada penjelasannya, owner media online pali.co.id dan tintamerah.co.id ini mengatakan, selama ini ada informasi yang mengatakan, diantara masyarakat ada yang ketakutan saat didatangi wartawan.

Menurut Efran, hal itu pendapat yang salah. Sebab, wartawan yang datang ke narasumber bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membantu masyakarat agar aspirasinya bisa ditulis dan sampai kepada pemegang kebijakan publik.

Bukan Menakut-nakuti rakyat

“Profesi wartawan bukan untuk menakut-nakuti rakyat. Tetapi untuk membantu rakyat di semua tingkatan, agar keluhan rakyat, persoalan warga bisa ditulis dan sampai ke pemegang kebijakan. Harapannya akan ada perubahan. Jadi bukan untuk nakut-nakuti rakyat,” ujarnya.

Efran juga menyingung tentang perilaku wartawan dalam berburu informasi. Menurutnya, dalam menggali informasi wartawan harus menjaga adab dan sopan santun. Hal ini menyangkut cara bicara, berpakaian saat menghadapi narasumber di lapangan, di kantor atau di manapun.

“Jadi wartawan itu selain harus punya ilmu pengetahuan, juga harus beradab. Jangan bermodal Id Card, baju wartawan terus membusungkan dada. Ini sikap yang tidak baik. Kita harus tetap menjaga adab. Sebab dengan cara itulah, kita menjaga harga diri, menjaga profesi wartawan dan menjaga hubungan baik dengan narasumber dan lembaga,” tambahnya.

Jurnalistik Foto

Pada sesi lanjutan, Iwan Cheristian, S.Sos.I, pada materi Jurnalistik Foto menjelaskan, tentang komposisi gambar.

Menurutnya, salah satu unsur yang membangun sebuah komposisi foto, adalah sudut pengambilan objek. Sudut pengambilan objek ini, menurut jurnalis foto kabarsumatera.com ini, sangat ditentukan oleh tujuan pemotretan.

“Maka dari itu jika kita mendapatkan satu moment dan ingin mendapatkan hasil yang terbaik, jangan pernah takut untuk memotret dari berbagai sudut pandang. Mulailah dari yang standar (sejajar dengan objek), kemudian cobalah dengan berbagai sudut pandang dari atas, bawah, samping sampai kepada sudut yang ekstrim,” ujar dosen Jurnalistik Photo Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah (UIN-RF) Palembang ini.

Menurut Iwan, ada 4 jenis fotografi yang umum diketahui masyarakat. Pertama, foto manusia (human) terdiri dari portrait (perwajahan dan perbadanan), beauty dan model (foto dengan peraga atau model yang diarahkan), human interest (kegiatan manusia), stage photography (teater, musik, tari), sports (kegiatan berolahraga), wedding dan doc (dokumentasi dan pernikahan), dan selfie (memotret diri sendiri).

Kedua, foto alam (nature) terdiri dari flora dan fauna, landscape (lansekap atau bentangan), Ketiga, foto arsitektur, dan keempat, still life photography (ekspresionis).

Wartawan Membawa Misi Kenabian

Materi lain disampaikan Imron Supriyadi, S. Ag, M. Hum, Ketua Aliansi Jurnalis Independent (2009-2011). Pemimpin Redaksi Media Online KabarSumatera.Com ini, menjelaslan wartawan juga pewaris para nabi.

Meski tidak masuk dalam golongan Majelis Ulama Indonesia (MUI), menurut Dosen Jurnalistik FDK UIN-RF Palembang ini bahwa, wartawan juga kumpulan orang berilmu, namanya juga ulama (kumpulan orang-orang yang berilmu).

Oleh sebab itu, wartawan dalam menjalankan profesinya harus berpijak pada misi kenabian berkewajiban mentauladani 4 sifat nabi ; sidiq tabligh, amanah dan fathonah (STAF).

Rasulullah Wartawan Paling Profesional

Mengapa wartawan harus demikian? Menurut Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Rumah Tahfidz Rahmat Palembang ini, wartawan paling profesional di bumi ini Rasulullah SAW.

“Rasul dapat wahyu dari Allah. Prosesnya, Allah Swt mengutus Malaikat Jibril, lalu disampaikan kepada Rasulullah SAW, dan wahyu itu dikabarkan kepada para sahabat Rasul, dan wahyu itu sampai kepada kita sampai hari ini. Jadi Rasul itu pemberi kabar wahyu kepada umat sedunia,” ujarnya.

Imron kemudian menukil Al-quran Suroh Al Baqarah ayat 119 : "Sesungguhnya kami mengutusmu (wahai Muhammad) dengan haq sebagai pemberi kabar gembira (basyiran) dan peringatan (nadziran)."

Menurut Imron, ayat itu sebagai penegasan Rasul sebagai pemberi kabar gembira. “Siapa pemberi kabar sekarang, setelah Rasul wafat? Ya, siapa lagi kalau bukan wartawan! Jadi kita ini profesinya jangan dibilang sepele, sebab wartawan pewaris para nabi dan membawa misi kenabian. Artinya kita ini pembawa misi kebaikan untuk umat sedunia. Makanya jangan nodai profesi ini dengan amplop, delapan enam, gondang atau apapun istilahnya. Kalau itu yang terjadi, ini sama saja kita sedang merendahlan profesi, sekaligus merendahkan misi kenabian,” tegasnya.

Empat Sifat Nabi

Menjelaskan tentang 4 sifat nabi, Imron mengatakan, pertama ; sidiq (benar) dan jujur. Hubugannya dengan profesi wartawan harus menulis fakta, bukan fiktif atau cerita rekaan imaginasi.

“Kita adalah wartawan penulis fakta, bukan fiksi. Kalau fiksi itu seniman dan sastrawan. Kita ini wartawan, tulisannya harus berdasar fakta, bukan penfasiran wartawan, bukan pula opini. Artinya, kalau ada wartawan yang menulis beritanya bohong, maka hukumannya berhenti jadi wartawan seumur hidup,” tegas Imron mengutip pernyatan tokoh pers Indonesia Atma Kusumah.

Sidiq, menurut Kontrbutor Kantor Berita Radio (KBR) 68 Jakarta (1999-2002) ini juga bermakna jujur. Kejujuran Rasulullah SAW, bukan hanya diakui kaum muslimin saja, tetapi juga musuh-musuh Rasul mengakuinya. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW digelari sebagai Al-Amin, artinya orang yang jujur, tidak pernah bohong.

Lantas apa hubugannya dengan profesi kita? Menurut Imron, jujur dalam karya jurnalistik, artinya harus menulis berita yang independent (tidak berpihak). Sebab keberpihakan wartawan hanya pada kebenaran. “Tidak tendensius, tidak bias berita, apalagi framing. Semua itu harus dijauhkan dari penulisan berita yang jujur,” tegasnya.

Kemudian dalam menulis berita yang jujur menurut Imron, berita harus faktual, sesuai fakta, harus akurat (teliti), harus berimbang, dua pihak yang sedang konflik (pro dan kontra) harus secara bersamaan diberi hak sama atau ruang yang sama di media dalam terbitan hari dan tanggal yang sama.

Satu hal yang penting lagi, menurut Imron jujur disini, tidak ada niat buruk kepada pihak manapun. “Satu lagi, berita yang dibuat bukan plagiat dari wartawan atau media lain. Kalau harus mengutip, sebut sumber media mana yang sudah menulis berita itu, supaya kita tidak melanggar hak intelektual,” tegasnya.

Amanah

Kemudian Amanah (dapat dipercaya). Satu hal ini menurut Imron, terkait dengan perilaku, terutama ketika wartawan berjanji dengan narasumber. Dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, akan sangat sering wartawan berjanji meliput, atau wawancara dengan narasumber.

“Agar profesi kita tidak ternoda, makanya kita harus tepat waktu dan tidak ingkar janji. Kalau pun ada penundaan beritahukan secara baik, sehingga tidak merusak kepercayaan narasumber kepada profesi kita, baik secara pribadi atau lembaga, karena ini berkaitan kepercayaan kolega kita,” ujarnya.

Tabligh

Tentang tabligh (menyampaikan). Imron menjelaskan, tugas wartawan harus menyampaikan informasi apapun yang peroleh di lapangan. “Kalau Rasulullah menyampaikan wahyu Allah kepada seluruh umat, kalau kita menyampaikan informasi dari hasil investigasi dan menyampaikan fakta itu kepada masyarakat melalui media,” ujarnya.

Fathonah

Sementara tentang sifat fathonah (cerdas), Imron menegaskan, wartawan harus cerdas dan wajib mencerdaskan masyarakat. Kali itu Imron mengumpakan tukang empek-empek.

“Bagaimana mungkin kita akan mengajari orang membuat empek-empek dengan baik dan profesional, kalau kita sendiri tidak pernah belajar membuat empek-empek? Artinya sebelum kita mencerdaskan orang, wartawan harus mencerdaskan diri lebih dulu dengan banyak membaca, sehingga nantinya wartawan itu cerdas dan mencerdaskan,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Yuli Apriani, Owner Sriwijayaterkini.co.id mengharapkan melalui pelatihan yang digelar dapat menambah pengetahuan, baik secara teknis dan non teknis.

“Harapan saya, semoga ilmu yang sudah disampaikan para narasumber dapat menambah wawsan, pengetahuan dan meningkatkan profesionalitas wartawan, terutama di media kita,” ujarnya. (Ril)

Credits

Bagikan